June 17, 2021 By pcinfinity.net 0

Di Manakah Arti, Tujuan, serta Hidup Sejati?

Kenapa aku terdapat? Apa sesungguhnya tujuan keberadaan kita di dunia ini? Kenapa aku terdapat serta hidup? Apakah maksudnya hidup ini? Apakah tujuan hidup ini? Apakah ada arti dalam hidup serta tujuannya?

Pertanyaan- pertanyaan di atas telah sempat kita tanyakan kepada diri kita ataupun kepada orang lain, hingga sesungguhnya itu tidaklah pertanyaan- pertanyaan yang baru. Apalagi di dalam benak orang- orang yang tidak biasa berpikir banyak juga, pertanyaan- pertanyaan semacam ini senantiasa timbul dikala mereka menyempatkan diri buat berdiam serta membiarkan hati mereka berdialog. Sejarah mencatat bermacam persoalan serta jawaban menimpa perihal ini, serta sehabis ribuan tahun, saat ini juga kita masih senantiasa menanyakan pertanyaan- pertanyaan yang sama. Memanglah arti, tujuan, serta hidup ialah sesuatu pencarian yang sangat menarik serta membingungkan manusia.

Kenapa kita senantiasa menanyakan pertanyaan- pertanyaan tersebut? Pertanyaan- pertanyaan umum yang terus menerus ditanyakan semacam ini meyakinkan terdapatnya konsep arti, tujuan, serta hidup yang terpaut di dalam hati manusia yang terdalam. Konsep- konsep intrinsik ini menimbulkan kita bingung serta sekalian berespon terhadap pertanyaan- pertanyaan tersebut, meski ada perbandingan interpretasi dari tiap manusia terhadap arti, tujuan, serta hidup itu sendiri Cikimm .

Perbandingan interpretasi arti hidup itu tergantung kepada definisi dini dari makna kata‘ arti’. Apakah itu‘ arti’? Saat sebelum kita bisa menanyakan apakah arti hidup ini, kita disadarkan kalau apalagi kata‘ arti’ pula dapat mempunyai makna yang berbeda- beda, bergantung situasinya. Meski manusia secara alamiah mempunyai konsep- konsep intrinsik tentang arti, tujuan, serta hidup, kita pula membangun penafsiran kita hendak konsep- konsep ini lewat pengaruh tradisi serta pengalaman- pengalaman individu kita yang sangat terbatas.

Realitas hendak keterbatasan ini menuntun kita kepada pertanyaan- pertanyaan yang lebih mendasar lagi. Apakah maksudnya‘ arti’? Apakah maksudnya‘ tujuan’? Apakah maksudnya‘ hidup’? Apakah jawaban yang benar dari pertanyaan- pertanyaan ini mempunyai natur yang subjektif ataupun objektif?

Bila natur jawaban tersebut merupakan subjektif, hingga makna bisa berganti cocok dengan definisi tiap orang. Ini sama dengan berkata kalau arti, tujuan, serta hidup boleh berarti apa saja yang kita suka. Namun jika natur jawabannya merupakan objektif, terdapat sesuatu patokan absolut yang tidak hendak berganti bagaimanapun orang- orang mau berikan definisi mereka sendiri. Patokan absolut tidak berarti tiap orang menyetujuinya, namun cuma berarti terdapat jawaban yang tentu terhadap pertanyaan- pertanyaan tersebut. Selaku contoh, matahari terbit di sebelah timur bukan sesuatu statment yang dihasilkan oleh mufakat warga, namun itu memanglah suatu realitas. Sepakat ataupun tidak, itu senantiasa realitas. Jadi apakah makna dari arti, tujuan, serta hidup itu bernatur objektif seumpama realitas yang tentu, ataukah bernatur subjektif cocok definisi kita sendiri? Bila kita tidak paham natur asli dari konsep- konsep ini, kita hendak menemui kesusahan dalam membicarakan tujuan serta makna hidup secara tidak berubah- ubah.

Namun, buat apa susah- susah menanyakan persoalan filsafat semacam ini? Apa sih berartinya mengenali apakah arti, tujuan, serta hidup itu bernatur subjektif ataupun objektif? Memanglah apa salahnya jika kita mengenakan definisi yang subjektif buat menempuh hidup kita sendiri?

Interpretasi subjektif tentang arti hidup dibagi dalam 2 jenis, ialah interpretasi secara meta- narrative( interpretasi secara totalitas) serta interpretasi secara cerminan kecil. Pendulum sejarah telah bergerak dari interpretasi meta- narrative ke interpretasi yang cuma memandang gambar- gambar kecil yang terpisah. Pergantian ini terjalin dekat abad ke- 20 kala manusia membebaskan diri dari Modernisme serta masuk ke dalam era Posmodernisme.